Sudah bukan rahasia lagi, dalam proses menyusui, ibu adalah tokoh
sentral dan dianggap satu-satunya figur penting. Sedangkan ayah berperan
sebagai pencari nafkah agar bisa membeli berbagai kebutuhan si buah
hati. Namun benarkah peran ayah hanyalah sebagai tulang punggung
keluarga?
Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu, sebuah hal yang tabu kala ayah
ikut membantu menggantikan popok, menceboki atau memandikan si kecil.
Namun, sekarang jaman telah berubah. Peran Ayah pun bertambah. Seorang
Ayah, harus siap membantu Ibu untuk merawat bayi dengan penuh kesadaran.
Jamak kita ketahui bahwa produksi Air Susu Ibu (ASI) erat kaitannya
dengan kondisi batin ibu. Jika seorang ibu merasa cemas, tertekan dan
takut ASI yang dihasilkan akan sedikit. Akibatnya, si kecil akan
kekurangan ASI yang berujung pada kurangnya asupan gizi dan berdampak
buruk pada pertumbuhannya. Walau pun ASI dapat diganti dengan susu
formula, tetap saja ASI merupakan sumber gizi terbaik.
Keterlibatan ayah dapat dimulai saat Ibu menyusui si kecil. Proses
menyusui ini akan menjadi sebuah ritual yang menyenangkan antara ibu,
ayah dan si kecil. Ayah yang memperlihatkan kasih sayang dan perhatian
penuh terhadap ibu dan si kecil akan membuat ibu merasa tenang dan
terlindungi. Perasaan nyaman inilah yang membuat ibu termotivasi dan
akibatnya, produksi ASI akan lancar dan berlimpah.
Di sinilah, ayah memegang peranan penting dalam proses menyusui.
Figur ayah sebagai kepala dan pelindung keluarga akan membuat ibu merasa
tidak sendirian saat merawat si kecil.
Selain saat menyusui, interaksi-interaksi yang dilakukan oleh ayah
akan berbeda dengan yang dilakukan ibu. Bila ibu cenderung komunikatif
sedangkan ayah berinteraksi dengan menggendong atau permainan fisik.
Dari sisi perkembangan bayi, energi fisik yang besar milik ayah akan
mengimbangi sentuhan lembut ibu. Perbedaan gaya inilah yang membuat si
kecil kaya pengalaman.
Dengan demikian, si kecil akan semakin cerdas dan semakin dekat dengan kedua orangtua.
psikologizone
sumber : http://www.fimadani.com
